A. Penyesuaian
Diri
1.
Pengertian
Pengertian penyesuaian diri adalah proses yang diharapi oleh individu
dalam mengenal lingkungan yang baru. Menurut Schneider (dalam Partosuwido,
1993) penyesuaian diri merupakan kemampuan untuk mengatasi tekanan kebutuhan,
frustrasi dan kemampuan untuk mengembangkan mekanisme psikologis yang tepat.
Menurut Callhoun dan Acocella (dalam Sobur, 2003), penyesuaian dapat
didefenisikan sebagai interaksi individu yang kontinu dengan diri individu
sendiri, dengan orang lain, dan dengan dunia individu. Menurut pandangan para
ahli diatas, ketiga faktor tersebut secara konstan mempengaruhi individu dan
hubungan tersebut bersifat timbal balik mengingat individu secara konstan juga
mempengaruhi kedua faktor lain.
Menurut Schneiders (1964), pengertian penyesuaian diri dapat ditiinjau
dari tiga sudut pandang, yaitu:
1.
Penyesuaian sebagai adaptasi ---
Menurut pandangan ini, penyesuaian diri cenderung diartikan sebagai usaha
mempertahankan diri secara fisik, bukan penyesuaian dalam arti psikologis,
sehingga ada kompleksitas kepribadian individu dengan lingkungan yang
terabaikan.
2.
Penyesuaian diri sebagai bentuk
konformitas --- Penyesuaian diri diartikan sama dengan penyesuaian yang
mencakup konformitas terhadap suatu norma. Pengertian ini menyiratkan bahwa
individu seakan-akan mendapat tekanan kuat untuk harus selalu mampu
menghindarkan diri dari penyimpangan perilaku, baik secara moral, sosial maupun
emosional. Menurut sudut pandang ini, individu selalu diarahkan kepada tuntutan
konformitas dan diri individu akan terancam tertolak jika perilaku individu
tidak sesuai dengan norma yang berlaku.
3.
Penyesuaian diri sebagai usaha
penguasaan --- Penyesuaian diri dipandang sebagai kemampuan untuk merencakan
dan mengorganisasikan respons dalam cara-cara tertentu sehingga
konflik-konflik, kesulitan dan frustasi tidak terjadi, dengan kata lain
penyesuaian diri diartikan sebagai kemampuan penguasaan dalam mengembangkan
diri sehingga dorongan emosi dan kebiasaan menjadi terkendali dan terarah.
Berdasarkan tiga sudut pandang tentang penyesuaian diri yang disebut
diatas, dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri dapat diartikan sebagai suatu
proses yang mencakup suatu respon-respon mental dan perilaku yang diperjuangkan
individu agar dapat berhasil menghadapi kebutuhan-kebutuhan internal,
ketegangan, frustasi, konflik serta untuk menghasilkan kualitas keselarasan
antara tuntutan dari dalam diri individu dengan tuntutan dari dunia luar atau
lingkungan tempat individu berada (Ali & Asrori, 2004).
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri
adalah proses dinamik dalam interaksi individu dengan diri sendiri, orang lain
dan lingkungan yang mencakup respon-respon mental dan perilaku untuk menghadapi
kebutuhan-kebutuhan internal, ketegangan, frustasi, konflik dan mencapai
keselarasan antara tuntutan dari dalam diri dengan tuntutan dari luar diri
individu.
2.
Konsep
Penyesuaian Diri
Penyesuaian dapat diartikan atau
dideskripsikan sebagai adaptasi dapat mempertahankan eksistensinya atau bisa survive
dan memperoleh kesejahteraan jasmaniah dan rohaniah, dan dapat mengadakan
relasi yang memuaskan dengan tuntutan sosial. Penyesuaian dapat juga diartikan
sebagai konformitas, yang berarti menyesuaikan sesuatu dengan standar atau
prinsip. Penyesuaian sebagai penguasaan, yaitu memiliki kemampuan untuk membuat
rencana dan mengorganisasi respons-respons sedemikian rupa, sehingga bisa mengatasi
segala macam konflik, kesulitan, dan frustrasi-frustrasi secara efisien.
Individu memiliki kemampuan menghadapi
realitas hidup dengan cara yang memenuhi syarat. Penyesuaian sebagai penguasaan
dan kematangan emosional. Kematangan emosional maksudnya ialah secara positif
memiliki responss emosional yang tepat pada setiap situasi. Disimpulkan bahwa
penyesuaian adalah usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri
dan pada lingkungannya.
3.
Pertumbuhan
Personal
a.
Penekanan pertumbuhan, penyesuain diri dan pertumbuhan
Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat pada waktu yang normal. Pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai proses transmisi dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau keadaanjasmaniah) yang herediter dalam bentuk proses aktif secara berkesinambungan. Jadi, pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis.
Secara umum konsep perkembangan dikemukakan oleh Werner (1957) bahwa perkembangan berjalan dengan prinsip orthogenetis, perkembangan berlangsung dari keadaan global dan kurang berdiferensiasi sampai keadaan di mana diferensiasi, artikulasi, dan integrasi meningkat secara bertahap. Proses diferensiasi diartikan sebagai prinsip totalitas pada diri anak. Dari penghayatan totalitas itu lambat laun bagian-bagiannya akan menjadi semakin nyata dan bertambah jelas dalam kerangka keseluruhan.
b.
Variasi dalam Pertumbuhan
Tidak selamanya individu berhasil dalam melakukan penyesuaian diri, karena kadang-kadang ada rintangan-rintangan tertentu yang menyebabkan tidak berhasil melakukan penyesuaian diri. Rintangan-rintangan itu mungkin terdapat dalam dirinya atau mungkin diluar dirinya.
c.
Kondisi-kondisi untuk Bertumbuh
Kondisi jasmaniah seperti pembawa dan strukrur atau konstitusi fisik dan temperamen sebagai disposisi yang diwariskan, aspek perkembanganya secara intrinsik berkaitan erat dengan susunan atau konstitusi tubuh. Shekdon mengemukakan bahwa terdapat kolerasi yang tinggi antara tipe-tipe bentuk tubuh dan tipe-tipe tempramen (Surya, 1977). Misalnya orang yang tergolong ekstomorf yaitu yang ototnya lemah, tubuhnya rapuh, ditandai dengan sifat-sifat menahan diri, segan dalam aktivitas sosial, dan pemilu. Karena struktur jasmaniah merupakan kondisi primer bagi tingkah laku maka dapat diperkirakan bahwa sistem saraf, kelenjar, dan otot merupakan faktor yang penting bagi proses penyesuaian diri. Beberapa penelitian menunjukan bahwa gangguan dalam sisitem saraf, kelenjar, dan otot dapat menimbulkan gejala-gejala gangguan mental, tingkah laku, dan kepribadian. Dengan demikian, kondisi sistem tubuh yang baik merupakan syaraf bagi tercapainya proses penyesuaian diri yang baik. Disamping itu, kesehatan dan penyakit jasmaniah juga berhubungan dengan penyesuaian diri, kualitas penyesuaian diri yang baik hanya dapat diperoleh dan dipelihara dalam kondisi kesehatan jasmaniah yang baik pula. Ini berarti bahwa gangguan penyakit jasmaniah yang diderita oleh seseorang akan mengganggu proses penyesuaian dirinya.
d.
Fenomenologi Pertumbuhan
Fenomenologi memandang manusia hidup dalam “dunia kehidupan” yang dipersepsi dan diinterpretasi secara subyektif. Setiap, orang mengalami dunia dengan caranya sendiri. “Alam pengalaman setia orang berbeda dari alam pengalaman orang lain.” (Brouwer, 1983:14 Fenomenologi banyak mempengaruhi tulisan-tulisan Carl Rogers, yang boleh disebut sebagai-_Bapak Psikologi Humanistik. Carl Rogers menggarisbesarkan pandangan Humanisme sebagai berikut (kita pinjam dengan sedikit perubahan dari Coleman dan Hammen, 1974:33)
B.
Stres
1.
Apa Itu Stres? Efek dari Stress “General Adaptation Syndrom”
Dari sudut pandang ilmu kedokteran, menurut Hans Selye
seorang fisiologi dan pakar stress yang dimaksud dengan stress adalah suatu
respon tubuh yang tidak spesifik terhadap aksi atau tuntutan atasnya.Jadi
merupakan repons automatik tubuh yang bersifat adaptif pada setiap perlakuan
yang menimbulkan perubahan fisis atau emosi yang bertujuan untuk mempertahankan
kondisi fisis yang optimal suatu organisme. Dari sudut pandang psikologis
stress didefinisikan sebagai suatu keadaan internal yang disebabkan oleh
kebutuhan psikologis tubuh atau disebabkan oleh situasi lingkungan atau sosial
yang potensial berbahaya, memberikan tantangan, menimbukan
perubaha-perubahan atau memerlukan
mekanisme pertahanan seseorang. Suwondo(1996) mendifinisikan stess sebagai
suatu keadaan psikologik yang merupakan representatif dari transaksi khas dan
problematika antara seseorang dengan lingkungannya.
Menurut Lazarus dan folkman stres adalah keadaan internal
yang dapat diakibatkan oleh tuntutan fisik dari tubuh(kondisi penyakit,
latihan, dll) atau diakibatkan kondisi lingkumgan dan sosial yang dinilai
potensial membahayakan, tidak terkendali atau melebihi kemampuan individu untik
melakukan coping.
Rice mengatakan bahwa stres adalah suatu kejadian atau
stimulus lingkungan yang menyebabkan
individu merasa tegang. Atkinson mengemukakan bahwa stres mengacu pada
peristiwa yang dirasakan membahayakan kesejahteraan fisik dan psikologis
seseorang.Situasi ini disebut sebagai penyebab stres dan reaksi individu
terhadadap situasi stres ini disebut sebagai respon stres.
Lazarus menjelaskan bahwa stres juga dapat diartikan
sebagai :
1.
Stimulus, yaitu stres merupakan kondisi atau kejadian
tertentu yang menimbulkan stres atau disebut juga dengan stressor.
2.
Respon, yaitu stres merupakan suatu
respon atau reaksi individu yang muncul karena adanya situasi tertentu yang
menimbulkan stres. Respon yang muncul dapat secara fisiologis, seperti : jantung
berdebar, gemetar dan pusing serta psikologis seperti : takut, cemas, sulit
berkonsentrasi dan mudah tersinggung.
3.
Proses, yaitu stres digambarkan
sebagai suatu proses dimana individu secara aktif dapat memepengaruhi dampak
stres melalui strategi tingkah laku, kognisi maupun afeksi.
General Adaptation Syndrom
Reaksi fisiologis tubuh terhadap perubahan-perubahan akibat
stress disebut sebagai general adaption syndrome, yang terdiri dari tiga fase:
a.
Alarm reaction(reaksi peringatan) pada
fase ini tubuh dapat mengatasi stressor(perubahan) dengan baik. Apabila ada rasa takut atau cemas atau khawatir
tubuh akan mengeluarkan adrenalin, hormon yang mempercepat katabolisme untuk
menghasilkan energi untuk persiapan menghadapi bahaya mengacam. Ditambah dengan
denyut jantung bertambah dan otot berkontraksi.
b.
The stage of resistance( reaksi
pertahanan). Reaksi terhadap stressor sudah mencapai atau melampaui tahap kemampuan
tubuh. Pada keadaan ini sudah dapat timbul gejala-gejala psikis dan somatis.
Respon ini disebut juga coping mechanism. Coping berarti kegiatan menghadapi
masalah, misalnya kecewa diatasi dengan humor, rasa tidak senang dihadapi
dengan ramah dan sebagainya.
c.
Stage of exhaustion( reaksi
kelelahan). Pada fase ini gejala-gejala psikosomatik tampak dengan jelas.
Gejala psikosomatis antara lain gangguan penceranaan, mual, diare, gatal-gatal,
impotensi, exim, dan berbagai bentuk gangguan lainnya. Kadang muncul gangguan
tidak mau makan atau terlalu banyak makan.
Menurut Hans Selya
membagi stress membagi stress dalam 3 tingkatan:
a.
Eustress adalah respon stress ringan
yang menimbulkan rasa bahagia, senang, menantang, dan menggairahkan. Dalam hal ini
tekanan yang terjadi bersifat positif, misalnya lulus dari ujian, atau kondisi
menghadapi suatu perkawinan.
b.
Distress merupakan respon stress yang
buruk dan menyakitkan sehingga tak mampu lagi diatasi
c.
Optimal stress atau Neustress adalah stress
yang berada antara eustress dan distres, merupakan respon stress yang menekan
namun masih seimbang untuk menghadapi masalah dan memacu untuk lebih bergairah,
berprestasi, meningkatkan produktivitas kerja dan berani bersaing.
2. Faktor Individual
dan social yang menjadi penyebab Stress
Menurut Lazarus dan Folkman, kondisi
fisik, lingkungan, dan sosial merupakan penyebab dari kondisi stres disebut
dengan stressor. Istilah stressor pertama kali diperkenalkan oleh selye. Jenis
–jenis stressor dikelompokkan sebagai berikut : masalah perkawinan, masalah
keluarga, masalah hubungan interpersonal, masalah pekerjaan, lingkunagn hidup,
masalah hukum, keuangan, perkembangan penyakit fisis dan lain-lain.
Macam-macam Stressor
Adapula
yang membagi stressor menjadi:
a. Stressor
fisis : seperti panas, dingin, suara bising dan sebagainya
b. Stressor sosial
seperti keadaan sosial, ekonomi, politik, pekerjaan, karir, masalah keluarga, hubungan intepersonal, dan
lain-lain.
c.
Stessor psikis misalnya frustasi, rendah diri,perasaan
berdosa, masa depan yang tidak jelas dan sebagainya.
Lazarus dan Cohen mengklasifikasikan stressor ke dalam tiga
kategori, yaitu :
1.
Cataclysmic events
Fenomena besar atau tiba-tiba terjadi, kejadian-kejadian
penting yang mempengaruhi banyak orang, seperti bencana alam.
2.
Personal stressor
Kejadian-kejadian penting yang mempengaruhi sedikit orang
atau sejumlah orang tertentu, seperti krisis keluarga.
3.
Background stressor
Pertikaian atau permasalahan yang biasa terjadi setiap hari,
seperti masalah dalam pekerjaan dan rutinitas pekerjaan.
3. Tipe Stress
Psikologi
Ada beberapa
jenis-jenis stressor psikologis (dirangkum dari folkman, 1984; Coleman,dkk,1984
serta Rice, 1992) yaitu:
1. Tekanan
(pressures)
Tekanan terjadi
karena adanya suatu tuntutan untuk mencapai sasaran atau tujuan tertentu maupun
tuntutan tingkah laku tertentu.Secara umum tekanan mendorong individu untuk
meningkatkan performa, mengintensifkan usaha atau mengubah sasaran tingkah
laku. Tekanan sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari dan memiliki bentuk yang berbeda-beda pada
setiap individu. Tekanan dalam beberapa kasus tertentu dapat menghabiskan
sumber-sumber daya yang dimiliki dalam proses pencapaian sasarannya, bahkan
bila berlebihan dapat mengarah pada perilaku maladaptive. Tekanan dapat berasal
dari sumber internal atau eksternal atau kombinasi dari keduanya.Tekanan
internal misalnya adalah sistem nilai, self esteem, konsep diri dan komitmen
personal. Tekanan eksternal misalnya berupa tekanan waktu atau peranyang harus
dijalani seseorang, atau juga dpat berupa kompetisi dalam kehidupan sehari-hari
di masyarakat antara lain dalam pekerjaan, sekolah dan mendapatkan pasangan
hidup.
2. Frustasi
Frustasi dapat
terjadi apabila usaha individu untuk mencapai sasaran tertentu mendapat hambatan
atau hilangnya kesempatan dalam mendapatkan hasil yang diinginkan. Frustasi
juga dapat diartikan sebagai efek psikologis terhadap situasi yang mengancam,
seperti misalnya timbul reaksi marah,
penolakan maupun depresi.
3. Konflik
Konflik terjadi
ketika individu berada dalam tekanan dan merespon langsung terhadap dua atau
lebih dorongan, juga munculnya dua kebutuhan maupun motif yang berbeda dalam
waktu bersamaan. Ada 3 jenis konflik yaitu :
a.
Approach
– approach conflict, terjadi apabila individu harus satu diantara dua alternatif yang sama-sama disukai,
misalnya saja seseorang sulit menentukan keputusan diantara dua pilihan karir
yang sama-sama diinginkan. Stres muncul akibat hilangnya kesempatan untuk
menikmati alternatif yang tidak diambil. Jenis konflik ini biasanya sangat
mudah dan cepat diselesaikan.
b. Avoidence
– avoidence conflict, terjadi bila individu diharapkan
pada dua pilihan yang sama- sama tidak disenangi, misalnya wanita muda yang
hamil muda yang hamil diluar nikah, di satu sisi ia tidak ingin aborsi tapi di
sisi lain ia belum mampu secara mental dan finansial untuk membesarkan anaknya
nanti. Konflik jenis ini lebih sulit diputuskan dan memerlukan lebih banyak
tenaga dan waktu untuk menyelesaikannya karena masing-masing alternatif memilki
konsekuensi yang tidak menyenangkan.
c. Approach – avoidence conflict,
adalah situasi dimana individu merasa tertarik sekaligus tidak menyukai atau
ingin menghindar dari seseorang atau suatu objek yang sama, misalnya seseorang
yang berniat berhenti merokok, karena khawatir merusak kesehatannya tetapi ia
tidak dapat membayangkan sisa hidupnya kelak tanpa rokok.
4. Symptom Reducing Responses terhadap Stress
1. Pengertian
Kehidupan akan terus berjalan seiring dengan brjalannya waktu. Individu
yang mengalami stress tidak akan terus menerus merenungi kegagalan yang ia
rasakan. Untuk itu setiap individu memiliki mekanisme pertahanan diri
masing-masing dengan keunikannya masing-masing untuk mengurangi gejala-gejala
stress yang ada.
2. Mekanisme Pertahanan Diri
Indentifikasi adalah suatu cara yang digunakan individu untuk mengahadapi
orang lain dengan membuatnya menjadi kepribadiannya, ia ingin serupa dan
bersifat sama seperti orang lain tersebut. Misalnya seorang mahasiswa yang
menganggap dosen pembimbingnya memiliki kepribadian yang menyenangkan, cara
bicara yang ramah, dan sebagainya, maka mahasiswa tersebut akan meniru dan
berperilaku seperti dosennya.
a.
Kompensasi
Seorang individu tidak memperoleh kepuasan dibidang tertentu, tetapi
mendapatkan kepuasaan dibidang lain. Misalnya Andi memiliki nilai yang buruk
dalam bidang Matematika, namun prestasi olahraga yang ia miliki sangat
memuaskan.
b.
Overcompensation / Reaction Formation
Perilaku seseorang yang gagal mencapai tujuan dan orang tersebut tidak
mengakui tujuan pertama tersebut dengan cara melupakan serta melebih-lebihkan
tujuan kedua yang biasanya berlawanan dengan tujuan pertama. Misalnya seorang
anak yang ditegur gurunya karena mengobrol saat upacara, beraksi dengan menjadi
sangat tertib saat melaksanakan upacara san menghiraukan ajakan teman untuk
mengobrol.
c.
Sublimasi
Sublimasi adalah suatu mekanisme sejenis yang memegang peranan positif
dalam menyelesaikan suatu konflik dengan pengembangan kegiatan yang
konstruktif. Penggantian objek dalam bentuk-bentuk yang dapat diterima oleh
masyarakat dan derajatnya lebih tinggi. Misalnya sifat agresifitas yang
disalurkan menjadi petinju atau tukang potong hewan.
d.
Proyeksi
Proyeksi adalah mekanisme perilaku dengan menempatkan sifat-sifat bain
sendiri pada objek diluar diri atau melemparkan kekurangan diri sendiri pada
orang lain. Mutu Proyeksi lebih rendah daripada rasionalisasi. Contohnya
seorang anak tidak menyukai temannya, namu n ia berkata temannya lah yang tidak
menyukainya.
e.
Introyeksi
Introyeksi adalah memasukan dalam diri pribadi dirinya sifat-sifat pribadi
orang lain. Misalnya seorang wanita mencintai seorang pria lalu ia memasukkan
pribadi pria tersebut ke dalam pribadinya.
f.
Reaksi Konversi
Secara singkat mengalihkan koflik ke alat tubuh atau mengembangkan gejala
fisik. Misalnya belum belajar saat menjelang bel masuk ujan, seorang anak
wajahnya menjadi pucat berkeringat.
g.
Represi
Represi adalah konflik pikiran, impuls-impuls yang tidak dapat diterima
dengan paksaan ditekan ke dalam alam tidak sadar dan dengan sengaja melupakan.
Misalnya seorang karyawan yang dengan sengaja melupakan kejadian saat ia di
marahi oleh bosnya tadi siang.
h.
Supresi
Supresi yaitu menekan konflik impuls yang tidak dapat diterima secara
sadar. Individu tidak mau memikirkan hal-hal yang kurang menyenangkan dirinya.
Misalnya dengan berkata "Sebaiknya kita tidak membicarakan hal itu lagi.”
i.
Denial
Denial adalah mekanisme perilaku penolakan terhadap sesuatu yang tidak menyenangkan.
Misalnay seorang penderita diabetes memakan semua makanan yang menjadi
pantangannya.
j.
Regresi
Regresi adalah mekanisme perilaku seorang yang apabila menghadapi konflik
frustasi, ia menarik diri dari pergaulan. Misalnya artis yang sedang digosipkan
selingkuh karena malu maka ia menarik diri dari perkumpulannya.
k.
Fantasi
Fantasi adalah apabila seseorang menghadapi konflik-frustasi, ia menarik
diri dengan berkhayal/berfantasi, misalnya dengan lamunan. Contoh seorang pria
yang tidak memilki keberanian untuk menyatakan rasa cintanya melamunkan
berbagai fantasi dirinya dengan orang yang ia cintai.
l.
Negativisme
Adalah perilaku seseorang yang selalu bertentangan / menentang otoritas orang
lain dengan perilaku tidak terpuji. Misalkan seorang anak yang menolak perintah
gurunya dengan bolos sekolah.
m.
Sikap Mengritik Orang Lain
Bentuk pertahanan diri untuk menyerang orang lain dengan kritikan-kritikan.
perilaku ini termasuk perilaku agresif yang aktif. Misalkan seorang karyawan
yang berusaha menjatuhkan karyawan lain dengan adu argument saat rapat
berlangsung.
Strategi Coping untuk Mengatasi Stress
Menghilangkan stress mekanisme pertahanan dan penanganan yang berfokus pada
masalah. Menurut Lazurus penanganan stress atau coping terdiri dari dua bentuk,
yaitu :
1. Coping yang berfokus pada
masalah (problem focused coping)
adalah istilah Lazurus untuk strategi kognitif untuk penanganan dtress atau
coping yang digunakan oleh individu yang mengahadapi masalahnya dan berusaha
menyelesaikannya.
2. Coping yang berfokus pada
emosi (problem focused coping)
adalah isitlah Lazurus untuk strategi penanganan stress diaman individu
memberikan respon terhadad situasi stress dengan cara emosional, terutama
dengan menggunakan penialaian defensif.
Strategi
Penanganan stress denagn mendekat dan menghindar
1. Strategi mendekati (approach
strategies) meliputi usaha kognitif untuk memahami penyebab stress dan
usaha untuk mengahadapi penyebab stress tersebut dengan cara mengahadapi
penyebabnya atau konsekuensi yang ditimbulkannya secara langsung.
2. Strategi menghindar (avoidance
strategies) meliputi usaha kognitif untuk menyangkal atau
meminimalisasikan penyebab stress dan usaha yang muncul dalam tingkah laku,
untuk menarik diri atau menghindar dari penyebab stress.
Pendekatan Problem Solving terhadap Stress
Salah satu cara dalam menangani
stress yaitu menggunakan metode biofeddback,
tekniknya adalah mengetahui bagian-bagian tubuh mana yang terkena stress
kemudian belajar untuk menguasainya. Tekhnik ini menggunakan serangkaian alat
yang sangat rumit sebagai Feedback.
Melakukan sugesti untuk diri
sendiri juga dapat lebih efektif karena kita tahu bagaimana keadaan diri kita
sendri. Berikan sugesti-sugesti yang positif, semoga cara ini akan berhasil
ditambah dengan pendekatan secara spiritual (mengarah pada Tuhan).
Sumber
:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar